Peringati Hari AIDS Sedunia 2025, Dinkes Kabupaten Blitar Gencarkan Edukasi HIV di Sekolah
Pemerintahan | 09-Dec-2025 03:17 WIB | Dilihat : 94 Kali
Foto : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine indrawati. (giripos)
BLITAR || Giripos.com – Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 dimanfaatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar untuk kembali mengetuk kesadaran generasi muda. Bertempat di SMA Negeri 1 Srengat, Senin (8 Desember 2025), Dinkes menggelar kegiatan edukasi HIV/AIDS yang melibatkan siswa dan pendidik dari sejumlah SMA dan SMK di wilayah barat Kabupaten Blitar.
Meski Hari AIDS Sedunia diperingati setiap 1 Desember, pelaksanaan kegiatan ini sengaja dijadwalkan pada 8 Desember agar dapat menjangkau lebih banyak peserta.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine indrawati, menegaskan bahwa edukasi semacam ini seharusnya sudah tidak lagi menjadi agenda rutin. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
“Sejujurnya, kita seharusnya sudah tidak perlu terus-menerus melakukan edukasi seperti ini. Tapi dari hasil evaluasi, ternyata siswa, pendidik, dan masyarakat umum masih sangat membutuhkan pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS,” ujar dr. Christine.
Karena itulah, Dinkes Kabupaten Blitar kembali turun langsung ke sekolah-sekolah. SMA Negeri 1 Srengat dipilih sebagai lokasi kegiatan, sekaligus menjadi tuan rumah bagi perwakilan SMA dan SMK lain di kawasan Blitar Barat.
Peserta yang hadir terdiri dari perwakilan siswa, wakil kepala sekolah, guru, serta siswa SMA Negeri 1 Srengat sebagai tuan rumah. Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para siswa tak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga aktif bertanya seputar cara penularan, pencegahan, hingga mitos yang masih beredar di masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Christine juga memaparkan kondisi terkini kasus HIV di Kabupaten Blitar. Sepanjang tahun 2025, tercatat sekitar 173 kasus baru.
“Angka ini memang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, tapi itu bukan prestasi dalam arti yang membanggakan. Karena artinya, penambahan kasus HIV masih terus terjadi,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menilai temuan tersebut juga menunjukkan keberhasilan tenaga kesehatan dalam menjaring kasus melalui skrining, edukasi, dan advokasi kepada masyarakat agar berani memeriksakan diri.
“Kalau banyak yang ditemukan, dari sisi kami sebagai tenaga kesehatan itu berarti upaya skrining dan edukasi berjalan. Tapi tentu ini tetap menjadi keprihatinan bersama,” tambahnya.
Yang menjadi sorotan utama, lanjut dr. Christine, adalah komposisi pasien baru. Sekitar 36 persen kasus berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL). Sementara sisanya didominasi oleh pasangan dari individu dengan risiko tinggi. Jika digabungkan, sekitar 68 persen kasus baru berasal dari kelompok berisiko tinggi.
“Inilah yang perlu diketahui masyarakat luas, terutama para orang tua yang memiliki anak remaja. Anak-anak harus diedukasi sejak dini agar tidak melakukan perilaku yang berpotensi menularkan HIV,” tegasnya.
Meski demikian, Dinkes Kabupaten Blitar mencatat adanya perkembangan positif. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV dinilai meningkat. Banyak warga datang secara sukarela, baik karena ingin memastikan status kesehatannya maupun karena menyadari perilakunya berisiko.
“Keterbukaan masyarakat sekarang jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu. Sudah banyak orang dengan HIV (ODHIV) yang berani terbuka, bahkan berbagi cerita di media sosial tentang kehidupan sehari-hari mereka,” kata dr. Christine.
Menurutnya, keterbukaan tersebut justru harus dilihat sebagai peluang edukasi yang sangat besar.
“Kalau kita melihat dari sisi positif, ini adalah bentuk edukasi nyata untuk masyarakat. Bahwa ODHIV bisa hidup sehat, produktif, dan tetap menjalani kehidupan seperti orang lain,” pungkasnya.
Melalui edukasi langsung ke sekolah-sekolah, Dinkes Kabupaten Blitar berharap stigma terhadap HIV/AIDS dapat terus ditekan, sekaligus membangun kesadaran generasi muda agar lebih peduli terhadap kesehatan diri dan masa depannya. (Arifbli)
