SPPG Dadaplangu Pastikan Tak Ada Unsur Kesengajaan dalam Temuan MBG di TK Al-Hidayah 1
Peristiwa | 28-Jan-2026 11:50 WIB | Dilihat : 124 Kali
Foto : Kepala SPPG Dadaplangu, Mefta Yusela. (giripos)
BLITAR || Giripos.com - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, menyampaikan klarifikasi atas beredarnya pemberitaan terkait temuan kondisi buah naga dan ompreng kosong dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Al-hidayah 1 Desa Langon Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.
Kepala SPPG Dadaplangu, Mefta Yusela, menjelaskan bahwa buah naga yang dibagikan kepada siswa tidak dikupas, melainkan hanya dipotong dan dibersihkan bagian luarnya. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kualitas dan tekstur buah agar tidak lembek atau rusak selama proses distribusi.
“Jika buah naga dikupas tanpa penyangga kulitnya, kami khawatir akan benyek saat didistribusikan,” jelas Mefta. Rabu (28/01/2026).
Terkait temuan ulat di dalam buah naga, Mefta menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak terlihat saat proses pemotongan. Ulat baru diketahui setelah buah dikupas lebih lanjut karena terdapat bagian buah yang berlubang.
Pihak SPPG mengakui kejadian tersebut sebagai kelalaian tim pembersihan dan distribusi, serta telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan guru yang bersangkutan.
“Ke depan akan kami lakukan evaluasi internal, termasuk kemungkinan memotong sekaligus mengupas buah dengan metode yang lebih aman agar kejadian serupa tidak terulang,” ungkapnya.
Selain itu, Mefta juga memberikan penjelasan terkait temuan ompreng kosong. Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut.
“Tidak mungkin kami sengaja memberikan ompreng kosong,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa ompreng kosong tersebut berasal dari sekolah lain yang sebelumnya mengalami kelebihan dua ompreng kosong. Saat proses distribusi berlangsung, terjadi kesalahan penukaran, sehingga ompreng kosong tersebut ikut terkirim ke sekolah lain.
“Setelah menerima informasi tersebut, tim distribusi langsung mendatangi sekolah yang bersangkutan dan menggantinya dengan ompreng baru pada hari yang sama,” jelas Mefta.
Pihak SPPG kembali menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahan teknis dalam distribusi, dan ke depan pengawasan serta evaluasi akan diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Mefta juga mengakui bahwa selama empat bulan operasional sejak September, terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan. Namun, seluruh kejadian tersebut dijadikan bahan evaluasi menyeluruh untuk peningkatan layanan.
“Kami mohon maaf atas kelalaian yang terjadi. Ke depan, kami akan memperbaiki sistem distribusi, pembersihan, dan pengawasan agar kualitas layanan semakin baik,” pungkasnya.
Dengan adanya klarifikasi ini, pihak SPPG Dadaplangu berharap masyarakat dapat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. (Arifbli)
